• Home
  • Berita Terkini
  • Menguatkan Respon HIV 2025: Peran Media dalam Mendorong Aksi dan Mengurangi Stigma

Menguatkan Respon HIV 2025: Peran Media dalam Mendorong Aksi dan Mengurangi Stigma

- AHF Indonesia

Upaya pengendalian HIV AIDS di Indonesia tidak hanya berbicara soal angka dan pengobatan, tetapi juga tentang bagaimana informasi disampaikan secara adil, akurat, dan manusiawi. Hal inilah yang menjadi fokus utama dalam diskusi media bertajuk “Menguatkan Respon HIV 2025: Peran Media dalam Mendorong Aksi dan Mengurangi Stigma” yang diselenggarakan oleh AIDS Healthcare Foundation (AHF) bersama KBR pada Senin, 22 Desember 2025 di Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan perwakilan pemerintah, perwakilan organisasi internasional dan ODHIV,  jurnalis, dan media nasional untuk duduk bersama membahas tantangan dan arah penanganan HIV ke depan.

Diskusi menyoroti masih kuatnya stigma dan diskriminasi terhadap Orang dengan HIV (ODHIV), yang berdampak langsung pada akses layanan kesehatan dan keberlanjutan pengobatan. Padahal, target global 95-95-95—mengetahui status HIV, mengakses terapi ARV, dan mencapai supresi virus—hanya dapat dicapai jika ODHIV merasa aman, diterima, dan tidak dikucilkan. Media dinilai memegang peran strategis dalam membentuk persepsi publik, termasuk memastikan pemberitaan HIV tidak bersifat menghakimi atau menyesatkan.

Direktur Rehabilitasi Sosial Korban Bencana dan Kedaruratan (RSKBK), Kementerian Sosial Republik Indonesia, Rachmad Kosnadi, menjelaskan bahwa dukungan sosial menjadi elemen penting dalam menjaga kepatuhan pengobatan ODHIV. Melalui sinergi dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pemerintah mendorong rehabilitasi sosial, pendampingan pengobatan, hingga pelatihan keterampilan dan dukungan nutrisi, khususnya bagi kelompok miskin dan rentan yang selama ini sulit mengakses layanan. Kolaborasi integrasi data antar kementerian juga terus diperkuat agar bantuan tepat sasaran dan berkelanjutan.

Dari sisi lain 3 narasumber  menekankan pentingnya pemahaman yang benar serta verifikasi data sebelum merilis informasi terkait HIV bagi para jurnalis, terutama dalam kasus sensitif yang berpotensi memicu stigma baru. Diskusi ini juga membuka ruang refleksi bahwa edukasi publik tidak cukup hanya menjadi wacana, tetapi perlu dikemas konsisten, relevan, dan dekat dengan realitas ODHIV—termasuk kisah pemulihan, keberhasilan bersekolah, dan kontribusi mereka di masyarakat.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, AHF dan KBR juga menggelar radio talkshow “Mengatasi Disrupsi HIV AIDS” pada Kamis, 18 Desember 2025, yang menghadirkan tiga narasumber lintas sektor untuk memperluas jangkauan edukasi kepada publik. Inisiatif ini menegaskan bahwa penguatan respon HIV membutuhkan kolaborasi nyata antara pemerintah dan pemangku kepentinganya, layanan kesehatan, organisasi internasional, komunitas media, dan masyarakat.Apabila Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai rangkaian diskusi dan talkshow ini, silakan klik tautan berikut https://youtube.com/live/vZHzINFlxEw?feature=share untuk mengakses rekaman dan informasi lengkapnya.

Rekomendasi