9 Tahun Dampingi Odha

Menjadi OHIDA atau orang yang hidup bersama orang dengan pengidap HIV/AIDS dan memberikan perhatian kepada mereka tentunya tidak mudah. Namun, hal ini mampu dijalani Rizti Agralina Barmana. Perempuan kelahiran Sumedang, 7 April 1978 ini mampu bertahan selama 9 tahun mendampingi suaminya yang divonis positif human immunodeficiency virus (HIV).

Bahkan, perempuan yang berprofesi sebagai dokter hewan ini mampu memotivasi sang suami untuk menjalani hidup secara sehat hingga saat ini. “Sebelum bercerai pada tahun 2013, saya mendampingi suami yang divonis HIV itu selama 9 tahun,” ujar Rizti kepada Kompas.com di Waroeng Kopi Boehoen, Sumedang kota, Selasa (30/11/2020) malam.

Kena HIV/AIDS gara-gara berbagi jarum suntik narkoba

Rizti menuturkan, mantan suaminya ini terinveksi HIV akibat jarum suntik narkoba, yang biasa dikonsumsi semasa dia masih muda, jauh sebelum menikah dengannya. Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu. Daftarkan email “Setelah menikah baru ketahuan positif HIV. Awal ketahuannya, saat itu, ada teman dekatnya yang meninggal, kemudian dia sakit berat. Karena dulu saling berbagi jarum suntik narkoba, saya sarankan periksa dan hasilnya ternyata memang positif HIV,” tutur Rizti.

Rizti menyebutkan, kabar buruk tersebut menjadi momen terberat dalam hidupnya. Terlebih, kata Rizti, beberapa waktu berselang, anak semata wayangnya yang masih berusia 2 tahun juga dipanggil Tuhan Yang Maha Esa, akibat kecelakaan, terjatuh hingga meninggal. “Saat itu, anak satu-satunya meninggal karena kecelakaan,” tutur Rizti.

Suami kena HIV/AIDS, anak meninggal

Rizti menuturkan, kabar suami positif HIV dan anak meninggal itu menjadi ujian berat yang harus dijalani dalam hidupnya. “Tapi, di sisi lain, selain ujian berat itu, Allah juga memberikan saya kekuatan yang luar biasa, melalui beliau saya belajar tentang banyak hal dalam hidup tentang kesabaran dan keikhlasan menerima ketetapan-Nya” sebut Rizti.

Nekat berhubungan tanpa kontrasepsi

Rizti mengatakan, setelah kehilangan anak semata wayangnya dan di tengah suami yang mengidap virus HIV, keinginan untuk kembali memiliki anak sangat kuat. Meski sangat rentan terjangkit HIV dari suami, karena keinginan kuat memiliki anak ini pula, ia nekat melakukan hubungan suami istri tanpa alat kontrasepsi. “Saking ingin punya anak lagi, saya berhubungan tanpa alat kontrasepsi.

Tentu saja, ini bukan hal yang baik untuk dicontoh. Dan tiap empat bulan setelah berhubungan, saya tes HIV. Tapi Alhamdulillah, tiap tes itu, saya selalu negatif (HIV), waktu itu juga dokter heran karena hasil tes saya itu selalu negatif,” kata Rizti.  

Akhirnya bercerai

Namun, kata Rizti, keinginan untuk kembali memiliki buah hati ini tak kunjung direstui Sang Pencipta. Hingga akhirnya, setelah sembilan tahun mendampingi suami yang divonis positif HIV itu, Tuhan berkata lain dan perpisahan menjadi jalan terbaik yang harus dilalui. “Kami berpisah bukan karena dia HIV, tapi memang takdirnya harus berpisah,” ujar Rizti.  

Momen terberat, saat suami sakit keras

Rizti mengatakan, momen terberat melewati sakit yang diderita suaminya itu dijalani selama dua tahun. “Karena saat itu, suami sakit keras. Selain akibat HIV yang dideritanya, juga karena penyakit penyerta dari HIV-nya, TB dan hepatitis,” ujar Rizti. Namun, kata Rizti, masa-masa berat itu dapat dilalui berkat semangat dan kedisiplinan suaminya dalam mengonsumsi obat. Mulai dari obat antiretroviral (ARV) untuk HIV, hingga obat Tuberculosis (TB).

“Dalam sehari, obat yang diminum suami itu sebanyak 9 butir. Saya terus beri motivasi, Alhamdulillah suami saya juga disiplin meminum obatnya itu setiap hari. Bahkan, sampai sekarang, tiap hari obat ARV-nya selalu diminum,” sebut Rizti.  

Bersyukur dan selalu bahagia

Rizti menuturkan, selalu bersyukur dan menjalani hidup dengan bahagia menjadi kekuatan terbesar yang bisa membuatnya bertahan, sekaligus menjadi sosok penyemangat bagi mantan suaminya yang saat itu divonis HIV untuk tetap semangat menjalani hidup. “Meski sudah berpisah dan suami sudah menikah lagi dengan orang lain, tapi saya bersyukur karena mantan suami saya itu, sampai sekarang menjalani hidup dengan sehat. HIV-nya memang tidak bisa disembuhkan, tapi dia bisa tetap bertahan dan hidup sehat berkat kedisiplinannya meminum obat,” sebut Rizti.  

Bentuk Komunitas Pita Merah

Rizti menyebutkan, pengalaman pahit hidup karena mengetahui suaminya dahulu mengidap HIV dan ditinggal anak semata wayangnya ini yang membuatnya memiliki sumber kekuatan untuk tetap menjalani hidup dengan penuh syukur. Berkaca dari hal ini pula, Rizti akhirnya memutuskan untuk membentuk Komunitas Pita Merah. Komunitas yang konsen membantu anak yatim piatu penderita hiv AIDS, ODHA maupun OHIDA untuk tetap semangat menjalani hidup. Juga konsen terhadap berbagai permasalahan perempuan.

“Saya diberi cobaan begitu berat sekaligus anugerah tak terhingga, sehingga saya berpikir, hidup saya ini harus berguna bagi orang lain. Dari sini, saya bersama teman lainnya kemudian membentuk Komunitas Pita Merah,” tutur Rizti.

Banyak kasus memprihatinkan

Di Komunitas Pita Merah, Rizti banyak menemukan kasus yang memprihatinkan. Rizti menuturkan, banyak di antara pengidap HIV di wilayah pelosok yang jauh dari perkotaan, tak tertolong nyawanya hanya karena masih minimnya informasi yang mereka dapat. “Di Sumedang ini contohnya, saya menemukan kasus, pasangan suami istri yang mengidap HIV. Nyawa mereka tak tertolong karena minimnya informasi seputar HIV yang mereka terima. Mirisnya, karena minimnya informasi ini, pengidap HIV di wilayah pelosok ini menularkan penyakitnya ini kepada anak yang dilahirkannya. Padahal, penularan HIV kepada anak ini sangat bisa diminimalisasi jika saat proses kelahirannya dilakukan secara benar, misal melalui proses operasi sesar,” kata Rizti. Selain itu, kata Rizti, kasus HIV yang banyak ditemukan bersama komunitasnya hari ini yaitu berasal dari pasangan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).

Jadi konseling pribadi

Rizti menuturkan, melalui Komunitas Pita Merah pula, ia menjadi konseling pribadi, terutama bagi pengidap HIV yang belum mau open status. Selain itu, kata Rizti, ia bersama komunitasnya ini terus memberikan edukasi terkait HIV, khususnya kepada warga di wilayah pelosok desa yang jauh dari perkotaan dan minim akses informasi terkait HIV. Saat ini, kata Rizti, Komunitas Pita Merah yang dibentuknya ini sudah konsen di tiga daerah di Jawa Barat. Selain di Sumedang, juga ada di Sukabumi dan Kabupaten Indramayu. “Selain menjadi konseling, kami juga menyampaikan edukasi terkait HIV, terutama kepada kalangan LGBT yang rentan menularkan HIV,” kata Rizti. 


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Kisah Rizti, 9 Tahun Dampingi Suami Pengidap HIV/AIDS, hingga Bangun Komunitas Pita Merah”, Klik untuk baca: https://regional.kompas.com/read/2020/12/01/12263281/kisah-rizti-9-tahun-dampingi-suami-pengidap-hiv-aids-hingga-bangun-komunitas?page=all.
Penulis : Kontributor Sumedang, Aam Aminullah
Editor : Aprillia Ika

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.