Ayah Menularkan HIV/AIDS Kepada Anak, Apakah Bisa?

Pada tahun 2018, para pakar kesehatan di kejutkan dengan peristiwa langka terkait penularan HIV yang terjadi kepada anak, dengan Ibu yang negatif HIV dan ayah yang positif HIV. Situasi ini dinilai cukup langka, karena kondisi ibu bayi yang negatif HIV namun bayi yang dilahirkannya positif HIV ditemukan pada saat umur 4 tahun.

Kasus yang biasa terjadi adalah saat HIV/AIDS bisa tertular kepada anak karena sang ibu yang mengidap HIV/AIDS. Resiko penularan tersebut dapat terjadi saat bayi berada dalam kandungan, saat persalinan baik normal melalui vagina dan persalinan caesar walaupun resiko penularan HIV/AIDS melalui persalinan caesar jauh lebih kecil, serta asupan air susu ibu (ASI) yang dikonsumsi.

Kita sudah mengetahui bahwasanya HIV/AIDS sampai saat ini belum memiliki obatnya. Pengobatan HIV/AIDS berfokus pada menekan angka viral load atau virus dalam darah sehingga resiko penularan dan resiko infeksi karena kekebalan yang menurun bisa ditekan. 

Sayangnya, jika kondisi HIV yang diderita individu dengan viral load besar, maka kemungkinan penularan pun semakin tinggi. Penularan bahkan bisa terjadi melalui cairan tubuh. Cairan yang menular bisa berupa cairan praejakulasi, cairan sperma, cairan rectum, cairan vagina, cairan kulit, dan ASI.

Bagaimana anak tersebut bisa tertular, sedangkan ibunya negative HIV?

Penularan kemungkinan terjadi pada masa seroconversion, yakni masa-masa awal terinfeksi HIV. Kasus langka tersebut diakibatkan pada saat penularan terjadi, sang ayah tidak mengetahui dirinya mengidap HIV, karena sedang dalam masa pengobatan cacar air dan sifilis, yang menjadikan tubuh sang ayah mengeluarkan banyak cairan. Tentunya bayi memiliki resiko yang rentan terhadap penularan penyakit.

Bayi memiliki kemungkinan lebih besar terkena infeksi menular saat hari-hari awal kehidupannya. Diawal, dicurigai bahwa anak tersebut mendapat kekerasan seksual, namun dari hasil penyelidikan yang dilakukan, tidak terdapat lesi dan luka pada kelamin anak tersebut. Sehingga yang paling memungkinkan adalah transmisi virus HIV dari cairan yang keluar dari luka cacar di kulit yang terpapar terus menerus.

Kondisi awal infeksi virus HIV sang ayah yang tidak terdeteksi, mengakibatkan dirinya belum menerima pengobatan ARV apapun terkait HIV, sehingga kadar virus dalam dirinya dalam keadaan yang cukup untuk menginfeksi orang lain, terutama bayi tersebut.

Produksi virus yang tinggi terutama pada saat infeksi awal infeksi HIV membuat cairan apapun yang keluar dari tubbuh atau luka sekalipun bisa menjadi sangat menular. Situasi tersebut menjadikan bayi berada dalam resiko yang rentan tertular HIV melalui cairan cacar air, dan terjadinya penularan HIV secara aptipikal.

Hal ini bisa dicegah melalui deteksi dini pada virus HIV dalam tubuh, sehingga pengobatan bisa dilakukan dengan segera dan mencegah replikasi virus HIV dalam tubuh, sehingga resiko penularan pun dapat diturunkan. (Refani Putri Shintya Fatoni)

Sumber : Ifeanyi Ezeonwumelu, Inês Bártolo, Francisco Martin, Ana Abecasis, Teresa Campos, Ethan O. Romero-Severson, Thomas Leitner, and Nuno Taveira. 2018. Accidental Father-to-Son HIV-1 Transmission During the Seroconversion Period. Retrieved from: https://www.liebertpub.com/doi/10.1089/aid.2018.0060

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *