Diskriminasi Berlapis Pada Anak Dengan HIV/AIDS

Data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) jumlah kasus menunjukkan bahwa HIV/AIDS pada anak berusia dibawah 0-19 tahun sebanyak 6,3 per sen di Indonesia. Data tersebut merupakan jumlah data yang terlapor hingga 25 Mei 2021. 

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dapat menularkan HIV/AIDS pada anak dengan transmisi secara langsung dalam proses kehamilan, melahirkan hingga menyusui. Pada masa umur awal kelahiran, bayi akan sangat rentan terhadap infeksi dan penularan penyakit. Karena itu, proses melahirkan dari ibu dengan HIV/AIDS harus dilakukan dengan sangat hati-hati. 

Studi yang dilakukan oleh UNICEF dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional menunjukkan kesulitan yang dihadapi oleh anak-anak yang terinfeksi HIV/AIDS untuk mengakses pelayanan pendidikan dan kesehatan disebabkan oleh adanya diskriminasi, kesulitan keuangan keluarga, kesehatan anak yang buruk dan kebutuhan untuk merawat orang tua yang juga terinfeksi HIV-AIDS. 

Stigma terhadap HIV/AIDS masih cukup tinggi. Tidak mudah bagi masyarakat untuk menerima penderita HIV AIDS hidup secara normal di tengah-tengah mereka. Ketakutan akan terjadinya penularan serta keyakinan bahwa penderita akan memberikan kesialan pada lingkungan mereka, merupakan tantangan dalam menangani dampak sosial HIV AIDS. Anak penderita HIV/AIDS adalah kelompok yang paling sering mendapat perlakuan diskriminatif di Indonesia. Sebagian besar malah tidak bersekolah atau dikucilkan masyarakat.

Berdasarkan Undang-Undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan dukungan sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Oleh karena itu program pengobatan anak khususnya anak dengan HIV merupakan salah satu bentuk perlindungan anak.

Sementara pada isu HIV/AIDS, jelas, anak adalah korban karena mereka telah membawa virus ini sejak dilahirkan. Namun mereka tidak dapat menikmati perlakuan yang wajar dari lingkungannya karena menderita HIV positif.

Harapan Bagi Ibu dan Bayi 

Namun, ada harapan bagi Ibu yang mengidap HIV untuk tidak menularkan virusnya tersebut kepada sang anak. Hal ini dapat dilakukan dengan pemeriksaan lebih dini VCT HIV, konsultasi obat yang cocok jika ibu mengidap HIV, konsumsi ARV teratur selama masa sebelum kehamilan, dan selama masa kehamilan, serta lakukan persalinan aman. 

Sosialisasi melalui media massa perlu lebih ditingkatkan lagi, agar ADHA dapat terlindungi dari stigma dan diskriminasi. Bentuk dukungan sosial dapat berupa kesempatan belajar bagi ADHA sehingga perlu perhatian khusus dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk (ADHA), mengenai keberlanjutan pendidikannya agar dapat menjalankan pendidikannya dengan normal. Peran sentral Komisi Penanggulangan AIDS di semua tingkat pemerintahan melalui fungsi advokasi dan koordinasi yang dimilikinya akan menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mengelola masalah ADHA. (Refani Putri Shintya Fatoni)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.