Jika Terapi Ada Efek Samping, Bisakah ODHA Tingkatkan Kualitas Hidup?

Setelah pada artikel sebelumnya kita telah membahas terkait obat-obatan serta terapi apa saja yang sudah digunakan dalam untuk menekan virus HIV, sekarang kita akan membahas terkait efek samping terapi ARV dalam HAART. Kamu bisa membaca ketiga artikel sebelumnya disini. 

Jika kamu telah mengetahui dan memahami jenis-jenis obat ARV tersebut, selanjutnya kami akan membahas mengenai efek samping dari terapi tersebut. Tentunya, keparahan efek samping ini dapat dihindari. Bagaimana caranya? Simak lebih jauh.

Efek Samping Terapi ARV 

Seperti kebanyakan jenis obat lain, juga dapat menimbulkan beragam efek samping. Efek samping ARV, akan bergantung pada tubuh tiap individu dan riwayat penyakitnya. Semakin lama obat dikonsumsi, maka adanya efek samping jangka panjang akan semakin besar.  Namun beberapa efek samping juga dapat muncul dalam jangka waktu yang pendek. Terapi menggunakan ARV memang diwajibkan untuk dikonsumsi setiap hari selama masa hidupnya, untuk menghindari resistensi virus terhadap obat, karena itu efek samping konsumsi obat menjadi tidak terelakkan. Beberapa efek samping yang sering dirasakan adalah:

  • Pusing
  • Diare
  • Mual
  • Muntah
  • Resistensi insulin, ketika sel tubuh sulit menggunakan hormon insulin dengan efektif
  • Kadar gula darah tinggi
  • Kadar kolesterol atau trigliserida tinggi
  • Gangguan pada hati
  • Ruam kulit, yang menuju ada syndrom Stevens-Johnson’s
  • Perubahan kemampuan dalam merasakan makanan
  • Redistribusi lemak di berbagai area tubuh
  • Penyakit kuning, yakni kondisi menguningnya kulit atau bagian putih mata. Efek samping ini paling sering dikaitkan dengan penggunaan atazanavir.

Beberapa jenis ARV seperti protease inhibitor juga dapat berinteraksi dengan obat, suplemen, dan herbal yang dikonsumsi pasien. Pasien yang terdiagnosa infeksi HIV dan diresepkan ARV wajib menyampaikan ke dokter semua jenis obat dan suplemen yang tengah dikonsumsi.

Resiko Resistensi Virus HIV

Kepatuhan akan mengkonsumsi obat menjadi sangat penting. Pada beberapa kasus, orang yang terdiagnosa HIV dapat mengalami resistensi ARV. Artinya, virus di dalam tubuh pasien menjadi tidak mempan atau kebal (resisten) terhadap antiretroviral. Hal ini dapat dilihat dari viral load dalam tubuh, apakah kadarnya tidak turun atau justru menjadi fluktiatif atau naik turun. 

Resistensi HIV terhadap antiretroviral ini bisa terjadi karena virus bermutasi di dalam tubuh atau mungkin pasien tertular strain HIV yang memang sudah kebal terhadap ARV. Jika pasien terdiagnosa menjadi resisten terhadap obat tertentu, maka regimen ARV baru akan diberikan. 

Untuk menghindari resistensi ARV, orang dengan HIV harus patuh mengkonsumsi obatnya setiap hari, di jam yang sama, dan sesuai dengan arahan dokter. Pasien tidak boleh melewatkan dosis, mengubah dosis, atau berhenti mengkonsumsi antiretroviral tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. 

Meningkatkan Kualitas Hidup ODHA

ODHA yang tidak mengikuti terapi ARV atau HAART akan mempercepat resiko AIDS, dengan gejala penyakit kardiovaskular, gangguan ginjal, keganasan dan gangguan saraf yang dapat membahayakan nyawa. Karena itu perlu untuk mengkonsumsi antiretroviral yang sesuai untuk meningkatkan harapan hidup dan kualitas hidup.

Kualitas hidup bukan hanya diukur melalui dari status kesehatannya dan kepanjangan umur pasien, namun juga kesejahteraan yang lebih baik. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa, faktor yang mempengaruhi adalah kepatuhan mengkonsumsi obat, ketidakpastian atau kecemasan akan efek samping, stigma dan diskriminasi dari lingkungan sosial, faktor psikologis seperti kesepian akibat pengucilan. Hal-hal tersebut dapat sangat mempengaruhi keberhasilan terapi.

Sehingga strategi perawatan dan HAART yang diberikan akan berfokus kepada peningkatan kualitas hidup terutama terkait kesehatan baik fisik maupun mental. Menjadi hal yang penting untuk mengetahui lebih baik mengenai efektifitas dan efek samping obat dengan berkonsultasi kepada dokter jika anda mengalami keluhan apapun. 

Jika kamu atau kerabat sedang menjalani terapi HIV/AIDS, maka perhatikan hal-hal tersebut untuk meningkatkan kualitas hidup:

  • Berkonsultasi dengan Dokter

Berkonsultasi dengan dokter terkait jadwal dan jenis obat yang harus diberikan. Saat berkonsultasi, jangan lupa untuk memberitahu riwayat penyakit, keluhan dan apapun yang kamu rasakan sebelum dan setelah mengkonsumsi ARV. 

  • Disiplin

Kedisiplinan diperlukan dalam keberhasilan terapi, karena ARV perlu diminum dalam dosis yang sama dan waktu yang sama setiap hari selama hidup. Hal ini bertujuan untuk menghindari resistensi virus HIV, sehingga kadar viral load akan terus menurun.

Cara mudah agar tak melewatkan dosis adalah dengan membuat alarm yang bisa mengingatkan Anda untuk segera minum obat. Anda juga bisa menyiapkan kotak obat untuk pemakaian 7 hari yang bisa diisi ulang setiap minggunya.

  • Dukungan

Tentunya, dalam menjalani terapi ini diperlukan dukungan baik dari keluarga atau orang terdekat. Dukungan dari orang terdekat akan memberikan efek positif terhadap keberhasilan dan kesehatan mental ODHA yang sedang menjalani terapi.

  • Jauhi Stigmatisasi Diri Sendiri dan Jauhi Sikap Diskriminasi Terhadap ODHA

ODHA sudah sering mendapatkan banyak stigma yang melekat pada mereka. Pahami bahwa stigma dan diskriminasi yang beredar tidaklah benar dengan membaca informasi terkait. Jauhi menstigma diri sendiri, ehingga kesehatan mental akan terjaga, berefek pada keberhasilan terapi.

  • Jalani Hidup Sehat

Menjalani pola hidup sehat sangat penting bagi keberhasilan terapi ODHA. Hal tersebut bisa dijalankan dengan menjaga pola makan yang sehat dan teratur, serta menjauhi minuman keras dan zat adiktif. 

(Refani Putri Shintya Fatoni)

Sumber:

Pedoman ART Kemenkes

Angga Wilandika, Penggunaan Highly Active Antiretroviral Therapy (Haart) Terhadap Health Related Quality of Life (HRQOL) pada Orang dengan HIV/AIDS. Retrieved from:

Letamo, G. (2003). Prevalence of, and factors associated with, HIV/AIDS-related stigma and discriminatory attitudes in Botswana. Journal of Health, Population and Nutrition, 21(4), 347-357.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.