Menilik Efektivitas Terapi HIV/AIDS

Sekelebat Sejarah HIV/AIDS

Kasus AIDS pertama terdeteksi pada tahun 1981 yang terjadi pada individu 5 LSL dengan gejala langka dan tidak biasa dari pneumonia dan kanker kulit. Pada saat itu, virus HIV masih belum ditemukan dan gejala AIDS belum memiliki nama. Istilah AIDS baru ada, setelah gejala tersebut kembali muncul pada komunitas pengguna NAPZA suntik/Penasun dan penduduk Haiti, Amerika Serikat pada pertengahan 1982.

Kasus yang dilaporkan pun semakin luas, dimana gejala tersebut tidak hanya dilaporkan terjadi pada pengguna NAPZA suntik/Penasun maupun kelompok LSL. Namun ditemukan juga pada wanita yang berhubungan seks dengan pria yang terjangkit AIDS, dan transmisi dari Ibu ke bayi yang dilahirkannya.

Sampai akhirnya Francoise Barre-Sinoussi dan Jean-Claude Chermann peneliti asal Prancis mengidentifikasi virus yang bertanggung jawab atas gejala tersebut dan diberi nama LAV virus. Pada tahun 1986 nama HIV atau Human Immunodeficiency Virus ditetapkan secara resmi, dan pada tahun berikutnya pengobatan pertama pada pasien HIV dengan antiretroviral disahkan di Amerika Serikat.

Terapi Pertama HIV/AIDS

Pengobatan pertama ini diberi nama AZT atau zidovudine dengan nama dagang Retrovir, namun sayangnya terapi tersebut memiliki banyak efek samping seperti mual, muntah, sakit kepala, kelelahan, anemia akut akibat neutropenia, dan miopati atau gangguan otot, serta memiliki kemungkinan resistensi terhadap virus HIV jika dilakukan dalam jangka waktu panjang dan tidak didukung terapi obat lain.

Terapi menggunakan AZT juga dilakukan kepada ibu hamil selama kehamilan hingga proses kelahiran, dan telah mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi sebanyak 1000 kasus pada  tahun 1994 hingga 1999.

Saat ini dalam upaya untuk menghindari berbagai komplikasi dan resiko resistensi tersebut, penggunaan AZT sebagai terapi HIV/AIDS, dilakukan dengan dua kombinasi obat lain yang disebut “triple cocktail” atau terapi antiretroviral yang sangat aktif (HAART) untuk menghambat pembentukan Kembali DNA ke RNA pada virus HIV yang ada dalam tubuh, namun penggunaan AZT ini tidak dapat menghentikannya sepenuhnya pertumbuhan virus HIV. 

Pendekatan Baru, Antiretroviral Therapy (ART) Menggunakan Obat Antiretroviral (ARV)

Setelah sebelumnya pada tahun 1994 HIV/AIDS menjadi sebab utama kematian di Amerika pada golongan usia dewasa 25-45 tahun, pendekatan baru dilakukan dengan menggunakan kombinasi pengobatan antiretroviral yang disebut three-therapy, terapi tersebut mampu menurunkan angka kematian ODHA di Amerika pada tahun 1996. 

Dalam perjalanannya, terapi ART dengan obat-obatan ARV digunakan dalam menekan angka virus dalam darah atau viral load ODHA. Terapi ini bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup ODHA, sehingga dapat beraktivitas seperti individu lainnya dan menurunkan resiko penularan dari ODHA kepada orang lain.

Sama dengan obat yang pertama kali ditemukan yakni zidovudine atau Retrovir, yang dapat menekan jumlah virus dalam darah, kombinasi dari berbagai jenis ARV lain juga digunakan. Kombinasi ini diberikan untuk mencegah resistensi virus HIV dalam terapi jangka panjang, sehingga pengobatan dapat lebih efektif. Beberapa hal yang dipertimbangkan dalam mengkombinasikan obat jenis ARV ini adalah kadar viral loads dalam darah, resistensi virus HIV terhadap obat, kondisi kesehatan pasien saat ini dan efek samping dari ARV tersebut, serta pola hidup yang dilakukan. 

Harapan Bagi ODHA

Pada 2009 pasien pertama yang disebut sebagai “Pasien Berlin” dilaporkan mengalami deteksi viral load atau virus HIV dalam darahnya sudah tidak terdeteksi, setelah menjalani dua kali transplantasi sumsum tulang belakang dimana mengandung mutasi genetis sehingga virus HIV tidak dapat menyerang sel inangnya.

Kasus kedua dilaporkan pada tahun 2019 setelah pasien kedua yang disebut “Pasien London”, menjalani transplantasi yang sama dengan “Pasien London”, dan setelahnya memiliki viral load yang tidak terdeteksi selama 19 bulan berturut-turut yang menandakan  bahwa virus HIV sudah tidak ada dalam tubuhnya.

Saat ini, terdapat inovasi baru yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi bernama ViiV Healthcare dan beredar di Amerika. Obat ini dijual dengan nama dagang Cabenuva, yang dikemas dalam dua jenis botol injeksi obat yang terpisah. Obat ini berjenis antiretroviral yang mengandung Rilpivirine dan Cabotegravir. Saat ini obat tersebut sudah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau Food and Drug Administration (FDA), dan dijual mulai dari harga $4,144 untuk 4 milimeter dan $6,211 untuk 6 milimeter. /Refani Putri Shintya Fatoni

Simak pembahasan terkait pencegahan dan penanganan HIV/AIDS di instagram AHF @ahf_indonesia 

Sumber:

Recommendations for Use of Antiretroviral Drugs in Pregnant HIV-1-Infected Women for Maternal Health. Retrieved from:  

https://clinicalinfo.hiv.gov/guidelines/perinatal/overview Diakses pada 01 Desember 2021Connor E, Sperling R, Gelber R, Kiselev P, Scott G, O’Sullivan M, VanDyke R, Bey M, Shearer W, Jacobson R (1994). “Reduction of maternal-infant transmission of human immunodeficiency virus type 1 with zidovudine treatment. Pediatric AIDS Clinical Trials Group Protocol 076 Study Group“. N Engl J Med. 331 (18): 1173–80. Retrievied from doi:10.1056/NEJM199411033311801. PMID 7935654. Diakses pada 01 Desember 2021

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.