PEP Sebagai Upaya Darurat Agar Tidak Terinfeksi HIV

Saat ini, sudah ada upaya untuk memberikan pengobatan sebagai langkah pencegahan terhadap HIV virus. Individu yang memiliki resiko tinggi terhadap paparan HIV dapat diuntungkan dengan adanya obat ini, antara lain adalah PrEP dan PEP. Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas mengenai kegunaan, dan efektifitas PrEP. Saat ini artikel ini akan mengulas lebih lanjut mengenai langkah preventif lain yakni PEP atau post-exposure prophylaxis (PEP). 

Antiretroviral PEP memiliki kegunaan sebagai mencegah infeksi HIV pada orang yang negatif HIV, dan memiliki resiko yang tinggi untuk terpapar virus HIV. Paparan ini yang biasa terjadi melalui hubungan seksual beresiko, atau berbagi jarum suntik bersama yang didapat dari orang yang terinfeksi HIV. 

Waktu terpaparnya seorang individu terhadap virus tersebut sangat penting, karena virus HIV berkembang sangat cepat, biasanya antara 24-36 jam setelah paparan pertama. Sehingga pemberian obat PEP di waktu virus belum berkembang menjadi krusial. Pemberian PEP, dilakukan kepada individu negatif maksimal selama 3 hari atau 72 jam setelah paparan beresiko. 

Apakah Penggunaan PEP Aman Bagi Individu Negatif HIV?

Regimen PEP saat ini merupakan regimen yang aman dan bisa ditoleransi oleh tubuh. Pasien biasanya akan mendapatkan efek samping yang cenderung rendah hingga sedang pada penggunaan regimen di hari pertamanya.

Pada beberapa penelitian yang dilakukan terkait penggunaan PEP dalam 23 penelitian dan 1 uji klinik acak, efek samping yang biasanya dirasakan adalah mual, muntah, diare, dan kelelahan adalah efek samping yang dilaporkan. Yang harus diperhatikan, bahwa PEP hanya diperbolehkan dikonsumsi selama 28 hari, untuk menghindari efek samping lebih lanjut. 

PEP akan lebih efektif jika konsumsinya dilakukan pada dosis yang tepat, dan waktu yang konsisten, Karena itu, diperlukan pengawasan oleh tenaga kesehatan ahli. Tenaga kesehatan perlu untuk mengecek secara berkala, hal ini dilakukan untuk memastikan ketaatan dan untuk memastikan pasien akan melakukan tes HIV pada hari ke 30 dan 90 setelah terpapar untuk memastikan apakah pengobatan yang dilakukan efektif dan virus HIV tidak muncul. 

Rekomendasi Penggunaan PEP

Pada individu yang baru saja melakukan kontak seksual dan jarum suntik dengan ODHA, diharuskan untuk mengkonsumsi PEP selama 28 hari, regimen PEP ini berisi 3 obat ARV. Karena kedisiplinan dan ketepatan waktu menjadi sangat penting untuk efektivitas PEP, maka digunakan regimen yang meminimalisasi efek samping, jumlah obat yang dikonsumsi per hari dan jumlah pil yang dikonsumsi tiap dosisnya. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir keengganan pasien dalam meminum obat, karena efek samping obat dan jumlah yang terlalu banyak. 

Rekomendasi yang diberikan CDC untuk regimen PEP bagi usia dewasa dan remaja adalah tenofovir disoproxil fumarate (TDF) 300 mg, ditambah emtricitabine (FTC) 200 mg sekali sehari dan pilihan antara raltegravir (RAL) 400 mg dua kali sehari atau dolutegravir (DTG) 50 mg sekali sehari. Orang yang disarankan untuk mengkonsumsi PEP adalah:

  • Individu negatif HIV yang memiliki resiko potensial untuk terinfeksi HIV, 
  • PEP hanya efektif bagi paparan yang dilakukan tidak lebih dari 72 jam.
  • PEP diperbolehkan diberikan kepada paparan yang tidak sering/sekali paparan, yang berarti orang dengan resiko tinggi yang menerima paparan terus menerus tidak direkomendasikan menggunakan PEP, melainkan menggunakan PrEP (kombinasi TDF dan FTC). Namun, jika paparan terakhir tergolong sering dan diantara jeda 72 jam evaluasi, maka PEP akan dilakukan transisi menjadi PrEP setelah menyelesaikan masa terapi 28 hari tersebut. 

Asesmen yang Dilakukan Sebelum Memulai PEP

CDC merekomendasikan beberapa asesmen ini untuk dilakukan sebelum memulai PEP, asesmen tersebut untuk memastikan PEP akan efektif dalam penggunaannya. Asesmen tersebut adalah:

  • Tes HIV, namun test oral HIV tidak direkomendasikan untuk tes pada penggunaan PEP
  • Tes kehamilan
  • Tes enzim pada liver
  • Tes BUN/creatinine
  • Tes penyakit menular seksual lain, seperti klamidia, gonorea, dan sifilis. 
  • Tes hepatitis-B, dan hepatitis-C
  • Tes antibodi 

Dosis pertama PEP harus dilakukan secepatnya, tes-tes selain tes HIV dapat dilakukan setelah mendapat dosis pertama PEP. (Refani Putri Shintya Fatoni)

Sumber:CDC. Post-Exposure Prophylaxis (PEP). 2021. Retrieved from: https://www.cdc.gov/hiv/clinicians/prevention/pep.html

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.