Positif HIV di Usia 27 Tahun

Antonio merasa hidupnya telah berakhir, semua impianya hancur berantakan; ketakutan, menyesal, hingga depresi. Padahal usianya masih muda. Masa depan masih terbentang Panjang. Tapi ketika tahu bahwa ia positif HIV di usia yang relatif muda, 27 tahun, ia ingin mengakhiri hidup secepat mungkin. Tapi bukan Antonio Namanya jika ia menyerah begitu saja pada kehidupan.

“AKU BANYAK MENGKONSUMSI MAKANAN YANG BERGIZI, ISTIRAHAT CUKUP DAN BERHENTI MEROKOK. ALHAMDULILLAH SELAMA SEMINGGU USAI MENGGANTI OBAT ARV, KEADAAN BERANGSUR MEMBAIK.”

Pria yang kini berusia 33 tahun dan masih segar bugar itu, mengungkapkan bahwa berdamai dengan diri sendiri adalah rahasianya bangkit dari keterpurukan. “Aku juga segera mencari informasi yang benar mengenai HIV, berkonsultansi dengan dokter, serta mencari dukungan dari sahabat ODHIV atau komunitas,” kenang Antonio yang menelurkan buku mengenai kisah hidupnya berkenaan dengan HIV.

Antonio “beruntung” meski positif HIV, jumlah sel CD4-nya tergolong tinggi yakni 555, di mana pada orang non-HIV jumlah sel CD4 mencapai 500 sampai 1.500. Lantaran imunitas yang cukup tinggi, dokter hanya menyarankan agar Antonio menjaga pola hidup sehat dan kembali melakukan pemeriksaan 3 bulan kemudian – apalagi pada tahun 2012, kebijakan pemerintah waktu itu hanya memberikan obat jika jumlah sel CD4 sudah dibawah 350, jka masih tinggi hanya dipantau saja.

Pada waktu memulai terapi ARV, Antonio pun tidak terhindar dari efeknya, mulai dari kulit kering, rambut rontok, panas tinggi, hingga muncul ruam-ruam di beberapa bagian tubuh. Namun ketika dokter mengganti jenis ARV-nya dan diimbuhi dengan pola hidup yang sehat, efek samping pun mulai teratasi. “Aku banyak mengkonsumsi makanan yang bergizi, istirahat cukup dan berhenti merokok. Alhamdulillah selama seminggu usai mengganti obat ARV, keadaan berangsur membaik.”

Antonio mengingatkan, hal semacam ini bisa saja terjadi kepada ODHIV lainnya, tetapi ada juga yang mereka tidak mengalami efek samping dan saat ini ARV yang digunakan sudah sangat baik dengan sedikit efek samping yang ditimbulkan.

Antonio yang kini tengah berbahagia lantaran baru saja merayakan satu tahun pernikahan dengan istrinya yang juga sesama ODHIV, Chani (31 tahun), tidak memungkiri stigma dan perlakuan negatif yang sempat ia rasakan, mulai dari dijauhi teman-teman bahkan hingga baju-bajunya dibakar.

“Mereka memberikan stigma karena ketidakpahaman mereka akan HIV,” kenang Antonio yang kemudian beralih menjadi aktivis khususnya mengenai edukasi akan HIV dengan bergabung sebagai Case Manager Yayasan Kasih Suwitno , pendamping sahabat positif di ruang Carlo RS. St. Carolus, dan konselor di Klinik Globalindo.

Tak hanya itu, ia juga membantu program kerja CLO atau Community Liaison Officer untuk penguatan beberapa layanan Puskesmas serta klinik di daerah wilayah di Indonesia seperti Sumatera (Medan dan Padang), Kalimantan (Balikpapan dan Samarinda), Jawa (Jakarta, Tangerang, Semarang, dan Yogyakarta), Bali , Ambon , Sulawesi (Makassar dan Manado) serta Papua (Jayapura dan Sorong).

Tak pernah terbayang oleh Antonio, “pengalamannya” dengan HIV ternyata telah membawanya ke pengalaman-pengalaman lain yang luar biasa, termasuk bertemu dengan istrinya. “Awal perkenalan kami bermula melalui pertemuan dengan sahabat-sahabat ODHIV. Dan kami memutuskan menikah, karena ingin sama-sama saling mendukung dalam suka dan duka, termasuk dalam hal mendekatkan diri kepada Tuhan yang yang telah memberikan kami kesempatan hidup kedua. Dan pernikahan ini membuat kami bersyukur, berkarya, dan saling bahu-membahu untuk dukungan kepada ODHIV lainnya.”

Sumber : https://sayaberani.org/

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.